:::: MENU ::::
  • Konflik Dan Kekerasan Di Papua ; Akar Masalah Dan Strategi Penyelesaiannya

  • Terorisme dan Reformasi Internal Polri

  • Pemuda Di Satu Abad Indonesia

 



Setelah beberapa bulan hampir tidak pernah menyalakan TV, akhirnya semalam saya mulai mengacak-acak kembali remote TV. Pilihan akhirnya saya jatuhkan ke film ini, film yang dulu acapkali saya skip setiap muncul di layar kaca.


Barangkali penyebabnya adalah karena dalam fikiran saya film korea tidak jauh beda dari drama korea yang membuat pemirsanya sering menangis atau berimajinasi terlalu tinggi. Semacam kisah-kisah imajiner yang hampir tidak akan ditemui di dunia nyata dimana mayoritas tokohnya ganteng dan cantik serta punya kekayaan yang unlimited. Itulah sebabnya saya dulu sempat menolak ajakan teman untuk menonton film "Parasite", walau akhirnya saya ikuti juga (karna ditraktir... 🤪). Dimana belakangan ternyata film tersebut memenangkan Award, mengalahkan film-film Hollywood.

Parasite memberikan warna yang berbeda, ia menyentuh realitas, begitu juga dengan film ini. Awalnya saya fikir film ini hanya akan bercerita bagaimana si aktor dan si aktris bertemu, memperjuangkan suatu hubungan dan berakhir happy ending. Namun ternyata isu yang diangkat jauh lebih complicated. Ia bercerita tentang bagaimana perempuan "hidup" ditengah budaya yang sangat menjunjung tinggi patriarki. 

Kim Ji Young berusaha menjadi istri dan ibu yang sempurna bagi suami dan anaknya. Hidupnya tampak normal, dimana suaminya bekerja sebagai karyawan dan ia di rumah mengasuh anak kecilnya yang lucu itu. Namun tanpa ia sadari, tekanan lingkungan membuatnya menderita gangguan mental. Terkadang ia berbicara seperti orang lain, sambil memprotes perlakuan yang dia rasa tidak adil. Beruntungnya ia memiliki suami yang peka dan sangat mencintainya. Suami yang segera menghubungi psikiater dan rela melakukan banyak hal untuk kesembuhan Kim Ji Young, termasuk berinisiatif mengambil paternity leave. 

Film ini menggambarkan dengan apik bagaimana pergulatan mental perempuan yang kerap tidak kita disadari. Semisal hidup di tengah keluarga yang selalu memprioritaskan anak laki-laki, dilemanya seorang perempuan yang ingin mengejar karir namun dibatasi kondisi, belum lagi diskriminasi yang acap didapatkan dari lingkungan. 

Adegan paling menarik menurut saya dalam film ini adalah saat Kim Ji Young kecil bertanya kepada ibunya. Ia mempertanyakan kenapa ibunya tidak menjadi seorang guru sebagaimana yang ibunya cita-citakan. Lalu ibunya menjawab bahwa dulu ia harus berhenti sekolah dan bekerja untuk membiayai pendidikan saudara-saudara laki-lakinya. "Lalu sekarang kenapa tidak jadi guru? apakah keberadaanku yang menghambatmu?", cecar si Kim Ji Young kecil yang dibalas dengan senyum yang terlihat getir dari ibunya. Senyum yang membuat hati saya serasa teriris-iris. 

Film ini bagi saya cukup mengaduk emosi, lebih dari emosi ketika menonton bagaimana dokter Ji menghadapi perselingkuhan Da Kyung dan Tae Oh. 🤪

Saking terkesannya, usai menonton saya googling kembali soal film ini. Ternyata film ini menuai banyak kontroversi di Korea Selatan sendiri. Diangkat dari novel best seller dan merajai box office tidak membuat film ini terhindar dari hujatan netizen.

Intinya film ini bagus dan sangat recommended untuk ditonton sambil direnungkan kembali. 😊🤗 
A call-to-action text Contact us