:::: MENU ::::
  • Konflik Dan Kekerasan Di Papua ; Akar Masalah Dan Strategi Penyelesaiannya

  • Terorisme dan Reformasi Internal Polri

  • Pemuda Di Satu Abad Indonesia



A.    Sekilas Tentang Teori Kepemimpinan
“Leadership is the heart of good governance”
Kalimat diatas menggambarkan seberapa vitalnya kepemimpinan dalam membangun sebuah tata kelola pemerintahan yang menganut prinsip good governance. Tidak berlebihan jika kepemimpinan dianggap vital, dikarenakan pemimpin dengan pola kepemimpinannya akan berefek langsung terhadap kebijakan-kebijakan yang diterapkan dalam sebuah tata kelola pemerintahan.

Kepemimpinan adalah sebuah objek kajian  yang telah lama menarik perhatian banyak orang. Istilah kepemimpinan sering digunakan dalam mengkonotasikan sebuah citra individu yang kuat dan dinamis bagi orang – orang yang berhasil memimpin di sebuah bidang, baik bidang kemiliteran, perusahaan atau memimpin sebuah negara. Jika kita meninjau perjalanan sejarah, Indonesia misalnya maka akan banyak kita temui peran – peran pemimpin dalam perjalanan sejarahnya. Baik itu peran sebagai orang yang dianggap berjasa, maupun perannya sebagai orang yang dipersalahkan dalam sebuah peristiwa penting dalam sejarah.

Ada banyak defenisi mengenai kepemimpinan yang dikemukakan oleh para pakar kepemimpinan. Misalnya saja Gardner (1990) mendefenisikan “leadership is the process of persuasion or example by which an individual (or leadership team) induces a group to pursue objectives held by the leader or shared by the leader and his followers”. Dalam hal ini gardner menjadikan proses persuasive dan keteladanan menjadi kunci dari sebuah kepemimpinan. Sementara Gary Yukl (2010) mengemukakan defenisi kepemimpinan sebagai berikut “ leadership is the process of influencing others to understand and agree about what needs to be done and how to do it, and the process of facilitating individual and collective effortsto accomplish share objectives” . Defenisi mencerminkan asumsi bahwa kepemimpinan adalah proses yang disengaja dari seseorang untuk menekankan pengaruhnya yang kuat terhadap orang lain.

Dalam kepemimpinan pastinya pemimpin dan pengikut merupakan syarat mutlak adanya proses kepemimpinan tersebut. Antara keduanya, terdapat hubungan antar manusia yaitu hubungan mempengaruhi (dari pemimpin), dan hubungan kepatuhan para pengikut/ bawahan karena dipengaruhi oleh pemimpin. Jika para pengikut terkena pengaruh kekuatan dari pemimpinnya, dan bangkitlah rasa ketaatan kepada pemimpin.

Di masa dulu, sekarang maupun akan datang, pemimpin dan peran kepemimpinannya ditentukan oleh banyak atau tidaknya pengikut. Tidak dapat seseorang dikatakan pemimpin jika dia tidak punya pengikut. Terlebih lagi pemimpin yang berada di sector publik. Keberadaan pengikut dari pemimpin yang berada di sector public  menjadi hal yang sangat penting mengingat dukungan menentukan seorang pemimpin bisa bertahan lama atau tidak dalam melaksanakan kepemimpinannya di sector publik.

Aspek penting lainnya dari seorang pemimpin ialah cara ia mencapai status pemimpin. Pemimpin yang ditunjuk oleh petinggi kemungkinan memiliki kredibilitas yang rendah di mata bawahannya dan mendapatkan loyalitas yang kurang dibandingkan pemimpin yang dipilih atau muncul dari kesepakatan pengikutnya. Seringkali para petinggi yang dipilih pengikutnya lebih mudah mempengaruhi kelompoknya melalui sasaran pencapaian karna kekuasaan dianugrahkan kepada mereka oleh para pengikutnya.

Pemimpin jika dilihat dari sisi formalitas ada dua yaitu pemimpin formal dan pemimpin informal. Pemimpin formal adalah orang yang oleh organisasi ditunjuk sebagai pemimpin, berdasarkan keputusan dan pengangkatan resmi untuk memangku suatu jabatan dalam struktur organisasi dengan segala hak dan kewajiban yang berkaitan dengannya untuk mencapai sasaran organisasi. Pemimpin informal, yaitu orang yang tidak mendapatkan pengangkatan formal sebagai pemimpin namun karena ia memiliki sejumlah kualitas unggul, dia mencapai kedudukan sebagai orang yang mampu mempengaruhi kondisi psikis dan perilaku suatu kelompok atau masyarakat.

Para pemimpin sering dihadapkan pada berbagai dilema yang mengharuskan mereka memilih antara serangkaian nilai dan prioritas yang saling bertolak belakang, dan pemimpin yang baik akan mampu mengenali dan menghadapinya dengan komitmen untuk melakukan hal yang benar, bukan hanya hal yang diperlukan. Tentu saja frasa “bertindak benar” terdengar begitu sederhana. Namun, terkadang perlu keberanian moral untuk bertindak benar walaupun kebenaran itu terlihat jelas. Adakalanya juga pemimpin dihadapkan pada tantangan kompleks yang tidak memiliki jawaban hitam-putih.

Namun apapun kasusnya, pemimpin tetap menciptakan teladan moral yang menjadi model bagi keseluruhan kelompoknya atau masyarakatnya bagi pemimpin yang berada di sector public. Entah teladan moral itu nanti berupa teladan baik ataukah sebuah teladan yang buruk. Pemimpin yang secara pribadi tidak menghargai kebenaran, tidak akan menginspirasi orang lain untuk menghargai kebenaran. Pemimpin yang lebih peduli pada kesejahteraan dirinya sendiri, tidak akan menginspirasi orang lain untuk berkorban demi orang lain.
Pemimpin, seperti apapun persoalan yang dihadapi hendaklah selalu menjadi problem solver bagi pengikutnya. Pemimpin yang mampu menjadi problem solver dari setiap permasalahan merupakan pemimpin yang sangat dibutuhkan masyarakat. Seperti yang dikemukakan Clare Rigg “The most important role of public sector leaders has been to solve the problems and challenges faced in a specific environment”.

Kepemimpinan sejati sering dicirikan banyak orang dengan adanya derajat kepercayaan antara pemimpin dan pengikut. Bennis dan Goldsmith menggambarkan empat kualitas kepemimpinan yang menghasilkan kepercayaan yaitu visi, empati, konsistensi dan integritas. Pertama, kita cenderung mempercayai pemimpin yang mempunyai visi yang kuat, yang menyatukan pengikutnya dengan dasar kesamaan nilai dan tujuan serta rasa memiliki institusi yang menaunginya. Kedua, kita cenderung mempercayai pemimpin yang menunjukkan empati kepada kita, yang menunjukkan bahwa mereka memahami dunia sama seperti yang kita pahami. Ketiga, kita mempercayai pemimpin yang konsisten. Bukan  berarti tidak boleh berubah,hanya saja perubahan dipahami sebagai sebuah proses evolusi dengan mempertimbangkan bukti yang relevan. Keempat, kita cenderung mempercayai pemimpin dengan integritas yang kuat, yang menunjukkan komitmen pada nilai-nilai prinsipil melalui tindakan – tindakan yang dia lakukan.

B.     Kepemimpinan Jokowi
Pemilihan presiden secara langsung sejak tahun 2004 telah menciptakan nuansa baru kepemimpinan di Indonesia.  Keterlibatan rakyat secara langsung dalam memilih pemimpin tertinggi bangsa ini memberikan image baru kepada presiden terpilih sebagai presiden yang lahir dari rakyat, presiden pilihan rakyat dan lainnya. Metode pemilihan langsung juga membuat Presiden dapat mengklaim bahwa dia dipercaya oleh mayoritas rakyat indonesia dan diberi amanah untuk memimpin bangsa ini satu periode kedepan.

Dilantiknya Jokowi-JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden ke-7  otomatis mengukuhkan jokowi sebagai pemimpin tertinggi bangsa ini. Euphoria yang dibangun di awal kemenangan pilpres lalu pasca negara ini terpolarisasi dalam dua kutub capres masih hangat terasa di ingatan. Pesta rakyat yang muncul dihari pelantikan jokowi semakin mengukuhkan klaim bahwa jokowi adalah presiden pilihan rakyat.

Hadirnya jokowi sebagai sosok yang anti mainstream dari sosok - sosok presiden sebelumnya dengan ciri khas blusukan serta tampil apa adanya seolah menjadi obat bagi masyarakat indonesia yang sudah muak dengan pemimpin – pemimpin dengan tampilan yang eksklusif namun tidak jujur dan banyak terjerat skandal kasus. Kasus yang marak menimpa pemimpin – pemimpin di sector public khususnya di Indonesia adalah kasus korupsi.

Soal kedekatan pada rakyat, inilah modal sosial utama bagi pemimpin. Saat pemimpin mengabaikan kepentingan rakyat, pada dasarnya ia telah berubah menjadi penguasa, bukan pemimpin. Penguasa berjarak dan menjauh dari rakyat, sementara pemimpin menjadi bagian dari rakyat. Factor kedekatan terhadap rakyat ini juga salah satunya yang mengantarkan jokowi ke kursi kepresidenan. Pola jokowi yang membaur dengan rakyat membuat rakyat merasa jokowi adalah bagian dari mereka yang akan mewakili rakyat memimpin bangsa yang besar ini.

Sejak dilantiknya menjadi presiden, jokowi tercatat membuat beberapa kebijakan yang kontroversial dan sebagiannya sangat tidak populis. Hal ini membuat jokowi banyak dikecam dan diserang. Baik serangan yang dilancarkan oleh partai pendukung, serangan oleh partai oposisi, serangan dari fihak yang berseberangan pilihan politik di pilpres, dan kecaman dari pengikutnya dahulu serta serangan lainnya yang sebagiannya juga dilancarkan via social media.

Ada beberapa kebijakan jokowi yang menjadi kontroversi di masyarakat. misalnya saja, terkait susunan kabinet yang awalnya dijanjikan ramping namun pada akhirnya tetap 34 kementrian. Hal ini memang tidak bisa dilepaskan dari situasi politik dimana bahasa koalisi tanpa syarat seolah menguap karna tanpa mengakomodir partai politik pendukungnya akan menciptakan ketidak stabilan juga di negara ini. kedua, mengangkat menteri tanpa melihat kualifikasi pendidikan. Masyarakat sudah mengetahui menteri Susi Pudjiastuti yang tidak lulus SMA, banyak menerima kritikan keras dari masyarakat. Namun  setelah waktu berjalan ternyata di lapangan Menteri Susi yang banyak melakukan langkah-langkah nyata di kementriannya.  Keputusan mengenai KAPOLRI yang membuka lembaran baru cecak versus buaya juga menjadi kontroversial.

Kebijakan menaikkan harga bbm bersubsidi juga merupakan salah satu langkah Presiden Jokowi yang menimbulkan penolakan keras dari berbagai kalangan masyarakat. Terlebih kenaikan BBM terjadi disaat harga minyak dunia turun. Kebijakan jokowi yang tidak populis ini memicu pergolakan di masyarakat khususnya di kalangan mahasiswa. Ditambah lagi statement jokowi yang seolah tidak mau tahu dengan menjawab “Tanya saja ke menteri ESDM” saat diwawancarai perihal kenaikan harga BBM. Kalimat yang dikemukakan jokowi seolah mencirikan bahwa jokowi bukanlah pemimpin yang mampu menjadi problem solver. Namun kalimat itu malah menjadikan masyarakat semakin tidak puas dan bertanya – tanya tentang kebijakan pemimpinnya. Kalimat diatas menjadi problem sendiri di masyarakat disamping problem yang ditimbulkan karna kenaikan harga BBM. Jokowi pada kasus ini malah bisa dianggap sebagai problem maker dibanding problem solver.

Kebijakan kenaikan BBM ini juga memicu kekecewaan dari para pendukung jokowi, atau kalau boleh disebut pengikutnya. Padahal seperti kita kemukakan di atas, kapasitas pemimpin ditentukan oleh banyak atau tidaknya pengikut. Jika banyak pengikut yang kecewa dan meninggalkannya maka akan semakin lemah kepemimpinannya. Ditambah lagi jika pengikut malah melakukan pemberontakan karna merasa hak nya tidak di akomodir.

Sebagai pemimpin di sektor public, apalagi pemimpin tertinggi bangsa ini harusnya jokowi mampu memanfaatkan kekuatan yang dia miliki dalam mengambil sebuah kebijakan public dan juga menjalankannya. Apalagi jokowi merupakan presiden hasil pilihan langsung oleh rakyat yang secara tidak langsung memberikan legitimasi kuat baginya dalam bertindak. Sehingga pada dasarnya beban kepentingan pada dirinya jauh berkurang dibanding presiden yang dipilih oleh parlemen.
Namun yang tidak boleh dilupakan juga, baik eksekutif, legislative dan yudikatif haruslah berjalan seiring agar negara ini dapat stabil. Fungsi dari masing masing lembaga hendaknya dijalankan dan dihormati oleh lembaga lainnya. Koordinasi antar lembaga juga menjadi sebuah keharusan jika menginginkan negara ini menjadi negara yang kuat. Join-up government sangat berpengaruh dalam hal ini. dalam konteks ini kepemimpinan jokowi terkadang terkesan jalan sendiri-sendiri antara eksekutif, legislative dan yudikatifnya. Hal ini dapat dilihat pada kasus penetapan budi gunawan sebagai kapolri. Secara kasat mata kita bisa melihat ada koordinasi yang tidak terbangun secara baik disitu.

C.    Penutup
            Hendaknya sebagai seorang pemimpin di sector public, jokowi mampu menjadi pemimpin yang dicintai rakyatnya dengan cara memperhatikan kesejahteraan mereka. Jokowi hendaknya juga membangun penguatan di internal kenegaraan melalui konsolidasi dan penguatan lembaga-lembaga pemerintah. Serta yang terpenting mampu menjadi problem solver bagi masyarakatnya

D.    Daftar pustaka
Hughes, Richard L.; Ginnet, Robert C. & curphy, Gordon J. 2002. Leadership: enhancing the lessons of experience. New York: MC Graw Hill

Rigg, Clare. & Richard, Sue. 2006. Action learning, leadership and organizational development in public services. New York : Roudledge

Yukl, Gary. 2010. Leadership in organization. San Francisco, CA: Pearson

Wirawan. 2013. Kepemimpinan ; teori, psikologi, perilaku organisasi, aplikasi dan penelitian. Jakarta : Rajawali Pers
Kepemimpinan adalah sebuah objek kajian  yang telah lama menarik perhatian banyak orang. Istilah kepemimpinan sering digunakan dalam mengkonotasikan sebuah citra individu yang kuat dan dinamis bagi orang – orang yang berhasil memimpin di sebuah bidang, baik bidang kemiliteran, perusahaan atau memimpin sebuah negara. Jika kita meninjau perjalanan sejarah, Indonesia misalnya maka akan banyak kita temui peran – peran pemimpin dalam perjalanan sejarahnya. Baik itu peran sebagai orang yang dianggap berjasa, maupun perannya sebagai orang yang dipersalahkan dalam sebuah peristiwa penting dalam sejarah.

Ada banyak defenisi mengenai kepemimpinan yang dikemukakan oleh para pakar kepemimpinan. Misalnya saja Gardner (1990) mendefenisikan “leadership is the process of persuasion or example by which an individual (or leadership team) induces a group to pursue objectives held by the leader or shared by the leader and his followers”. Dalam hal ini gardner menjadikan proses persuasive dan keteladanan menjadi kunci dari sebuah kepemimpinan. Sementara Gary Yukl (2010) mengemukakan defenisi kepemimpinan sebagai berikut “ leadership is the process of influencing others to understand and agree about what needs to be done and how to do it, and the process of facilitating individual and collective effortsto accomplish share objectives” . Defenisi mencerminkan asumsi bahwa kepemimpinan adalah proses yang disengaja dari seseorang untuk menekankan pengaruhnya yang kuat terhadap orang lain.
            Ilmu kepemimpinan membedakan antara kepemimpinan formal dan kepemimpinan informal. Kepemimpinan formal ialah kepemimpinan yang memimpin organisasi formal seperti perusahaan, lembaga pemerintahan (eksekutif, legislative, yudikatif), organisasi militer, dan sebagainya. Pemimpin formal ialah seseorang yang oleh organisasi tertentu dipilih sebagai pemimpin, berdasarkan keputusan dan pengangkatan resmi untuk memegang suatu jabatan dalam struktur organisasi, dengan segala hak dan kewajiban yang berkaitan dengannya, untuk mencapai sasaran organisasi yang telah ditetapkan. Pemimpin formal memiliki ciri – ciri sebagai berikut :

  1. Berstatus sebagai pemimpin formal atau resmi (disahkan dan diangkat) selama masa jabatan tertentu, atas dasar legalitas formal oleh penunjukan pihak yang berwenang, ada legitimitas.
  2. Sebelum pengangkatan , harus memenuhi beberapa persyaratan formal terlebih dahulu.
  3. Diberi dukungan oleh organisasi formal untuk menjalankan tugas kewajibannya.
  4. Bisa mencapai promosi atau kenaikan pangkat formal, dan dapat dimutasikan.
  5. Bila melakukan kesalahan-kesalahan, akan dikenai sanksi dan hukuman.

Pemimpin formal pada dasarnya harus menempatkan, jiwa dan perilakunya untuk menjaga citra kepemimpinannya dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat yang dipimpinnya. Efektifitas dan efisiensinya seorang pemimpin formal adalah dengan mengedepankan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi dan golongannya dalam rangka mencapai tujuan yang di cita-citakan bersama. Pemimpin formal setiap saat dapat dihindari atau tidak dipercaya oleh masyarakat karena arah kebijakan dan keputusan serta program kerjanya selalu merugikan masyarakat yang dipimpinnya.
Kepemimpinan informal adalah kepemimpinan yang dasarnya tidak dipilih atau diangkat secara formal. Seseorang menjadi pemimpin informal kalau ia diakui mempunyai keunggulan fisik, keunggulan psikologi, ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diakui oleh para anggota organisasi. karena memiliki sejumlah kualitas unggul, dia mencapai kedudukan sebagai orang yang mampu mempengaruhi kondisi psikis dan perilaku suatu kelompok. Dalam organisasi formal, pemimpin informal tidak mempunyai wewenang untuk memberi perintah dan menghukum para anggota organisasi. Akan tetapi, ia mampu mempengaruhi para anggota organisasi melalui visinya, memberi contoh, perilaku dan praktik membuat atau menyelesaikan sesuatu. Ciri-ciri pemimpin informal yaitu :

  1. Tidak memiliki penunjukan formal atau legitimitas sebagai pemimpin.
  2. Masyarakat menunjuk dirinya, dan mengakuinya sebagai pemimpin.
  3. Status kepemimpinannya berlangsung selama kelompok yang bersangkutan masih  mau mengakui dan menerima dirinya.
  4. Tidak dapat dimutasikan.
  5. Tidak pernah mencapai promosi.
  6. Tidak memiliki atasan.
            Pendekatan yang dilakukan pemimpin formal dan pemimpin informal terhadap pengikutnya berbeda. Pemimpin formal biasanya melakukan pendekatan yang sifatnya instruksi. Sementara pemimpin informal lebih sering melakukan pendekatan terhadap pengikutnya dengan pendekatan yang sifatnya persuasive.

Referensi:
Yukl, Gary. 2010. Leadership in organization. San Francisco, CA: Pearson
Wirawan. 2013. Kepemimpinan ; teori, psikologi, perilaku organisasi, aplikasi dan penelitian. Jakarta : Rajawali Pers

 
Ketahanan nasional
Konsepsi ketahanan nasional saat ini sudah diangkat dari lingkungan terbatas di mana selama ini ia ditumbuhkan, dikembangkan dan dimantapkan kepada masyarakat secara lebih luas. Hal ini bukan tanpa alasan, kesan bahwa ketahanan nasional adalah semata konsep militer telah mengungkungnya selama ini untuk berada hanya dikalangan militer saja. Padahal subjek dari ketahanan nasional itu mencakup manusia atau masyarakat secara lebih luas.
Ketahanan nasional itu sendiri merupakan keadaan atau kondisi yang dinamis dimana ia merupakan perpaduan dari setiap aspek kehidupan bangsa dan negara untuk berkembang dan menjamin keberlangsungan kehidupannya. Oleh karena itu, usaha – usaha untuk peningkatan ketahanan nasional harus dilakukan dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak hanya pada aspek pertahanan seperti yang selama ini dipahami.
Daya tahan suatu bangsa, tanpa terkecuali, merupakan hasil dari proses perjuangan dan intisari dari pengalaman – pengalaman generasi terdahulu. Tingkat, mutu serta keunggulan ketahanan nasional dari suatu bangsa tergantung pada kepandaian, kecakapan dan kebijaksanaan bangsa itu dalam mempergunakan sumberdaya yang ada dalam bangsa tersebut.
Meningkatkan ketahanan nasional sama hal nya dengan meningkatkan, mengembangkan dan memelihara seluruh aspek ketahanan nasional. Di Indonesia aspek – aspek ketahanan nasional dikenal dengan istilah “Asta Gatra” yang berarti delapan aspek. Dari delapan gatra yang menjadi aspek ketahanan nasional, tiga aspek diantaranya digolongkan menjadi aspek alamiah dan lima aspek lagi digolongkan sebagai aspek sosial. Aspek alamiah biasa juga disebut “Tri Gatra” dapat dilihat sebagai aspek – aspek yang relative tetap  karena sifat alamiahnya.  Aspek sosial biasa disebut “Panca Gatra” merupakan aspek yang dipandang bersifat dinamis karna bersentuhan dengan kondisi sosial masyarakat. Tiga aspek alamiah meliputi apek geografi, aspek demografi dan aspek sumberdaya alam. Lima aspek sosial meliputi aspek ideology, aspek politik, aspek ekonomi, aspek sosial-budaya dan aspek pertahanan keamanan. Yang dimaksud aspek – aspek dalam asta gatra adalah sebagai berikut:
1.      Gatra geografi
Geografi turut menentukan sejauh mana kekuatan nasional dari sebuah negara. Hal yang berkaitan dengan wilayah  Negara meliputi ;
a.       bentuk wilayah Negara (dapat berupa negara pantai, negara kepulauan atau negara continental).
b.      Luas wilayah negara,
Luas wilayah negara juge merupakan salah satu unsur dari gatra geografi. Hal ini dikarenakan ada negara dengan wilayah luas dan ada negara dengan wilayah sempit (kecil). Semakin luas suatu negara maka semakin kuat juga ketahanan nasional yang harus dimiliki negara tersebut. Indonesia berada diurutan 15 pada luas wilayah sedunia.
c.       Posisi geografis, astronomis, dan geologis Negara
d.      Daya dukung wilayah Negara, ada Negara yang habitable dan ada Negara yang unhabitable. Dalam kaitannya dengan wilayah Negara, pada masa sekarang ini perlu dipertimbangkan adanya kemajuan teknologi, kemajuan informasi dan komunikasi. Suatu wilayah pada awalnya sama sekali tidak mendukung kekuatan  nasional, karena penggunaan teknologi maka wilayah itu kemudian menjadi unsure kekuatan nasional Negara.

2.      Gatra demografi
Penduduk suatu negara menentukan  kekuatan atau ketahanan nasional negara yang bersangkutan. Faktor berkaitan dengan penduduk negara meliputi dua hal berikut :
  1. Aspek kualitas mencakup tingkat pendidikan, keterampilan, etos kerja, dan kepribadian.
  2. Aspek kuantitas yang mencakup jumlah penduduk, pertumbuhan, persebaran, perataan, dan perimbangan penduduk ditiap wilayah negara.
  1. Gatra Sumber Daya Alam
Dewasa ini, kemampuan melakukan kontrol atas sunber daya alam menjadi semakinmpenting bagi ketahanan nasional dan kemajuan suatu negara. Banyak negara yang kaya akan sember daya alam seperti minyak di negara afrika, tetapi negara tersebut tetaplah miskin. Negara-negara tersebut belum mampu melakukan kontrol atas sumber daya alam yang berasal dari miliknya. Justru negara-negara yang tidak memiliki sumber daya alam seperti Singapura dan Jepang bisa maju oleh karena mampu melakukan kendali atas jalur perdagangan sumberdaya alam dunia.
4.      Gatra di Bidang Ideologi
Pengertian ideology secara umum dapat dikatakan sebagai kumpulan gagasan-gagasan,ide-ide, keyakinan-keyakinan, kepercayaan-kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis. Maka ideology Negara dalam arti cita-cita Negara atau cita-cita yang menjadi basis bagi suatu teori atau sistem kenegaraan untuk seluruh rakyat dan bangsa yang bersangkutan untuk;
  1. Mempunyai derajat yang tinggi sebagai nilai hidup kebangsaan dan kenegaraan.
  2. Oleh karena itu mewujudkan suatu asas kerokhanian, pandangan dunia, pandangan hidup, pedoman hidup, pegangan hidup yang dipeihara, dikembangkan dan dilestarikan kepada generasi-generasi berikunya.


5.      Gatra Politik.
Perubahan konstelasi politik suatu negara sangat mempengaruhi ketahanan nasional dari negara tersebut. Istilah politik memiliki  makna yang bermacam-macam, dan semua itu dapat dikelompokkan menjadi dua macam yaitu  Pertama : politik sebagai sarana atau usaha untuk memperoleh kekuatan dan dukungan dari masyarakat dalam kekuatan kehidupan bersama. Dengan demikian polotik dapat dikatakan menyangkut kekuasaan hubungan ( power relationship). Dengan kata lain, polotik mengandung makna usaha dalammemperoleh, memperbesar, ,emperluas, serta mempertahankan kekuasaan yang dalam bahsa inggrisnta dikenal dengan istilah politic. Kedua; politik dipergunakan dipergunakan untuk menunjukkan kepada suatu rangkain kegiatan atau cara-cara yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan yang dianggap baik.
6.      Gatra Ekonomi
Bidang ekonomi tidak bisa dilepaskan dengan faktor-faktor lainnya yang saling berkaitan. Perekonomian selain berkaitan dengan wilayah geografi suatu negara, juga sumber kekayaan alam, sumber daya manusia, cita-cita masyarakat yang lazimnya di sebut ideology, akumulasi kekuatan, kekuasaan, serta kebijaksanaan yang akan diterapkan dalam kegiatan produksi dan distribusi, nilai sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan yang memberikan jaminan lancarnya roda kegiatan ekonomi suatu bangsa.
Tingkat kemandirian suatu bangsa dalam hal perekonomian juga mempengaruhi ketahanan nasional dari bangsa tersebut. Jika suatu bangsa tidak bisa mandiri secara ekonomi dan masih sangat bergantung pada negara lain dalam hal ekonomi maka ketahanan bangsanya bisa terancam. Negara lain akan dengan sangat mudah mengintervensi bangsa tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan negara tersebut memiliki ketahanan nasional yang kurang kuat.
7.      Gatra Sosial Budaya
Tidak dapat dipungkiri bangsa indonesia yang memiliki beragam budaya sangat rentan dengan perpecahan. Isu SARA sering dipakai untuk memecah belah kekuatan bangsa kita.  Bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai suku bangsa dan sub etnis , yang masing-masing memiliki kebudayaannya sendiri. Karena suku bangsa tersebut mendiami daerah tertentu, daerah tertentu itu disebut kebudayaan daerah. Dalam setiap budaya daerah terdapat nilai budaya yang tidak dapat dipengaruhi budaya asing, yang sering disebut local wisdom. Oleh karena itu kebudayan nasional adalah merupakan hasil interaksi kebudayaan-kebudayaan suku bangsa yang masing-masing memiliki kebudayaan daerah, yang kemudian di terima sebagai nilai bersama dan sebagai suatu identitas bersama sebagai suatu bangsa yaitu bangsa Indonesia. Oleh karena itu berdasarkan fungsinya kebudayaah nasional memiliki dua pengertian. Pertama, sebagai suatu sistem gagasan dan perlambang yang member identitas kepada warga Negara Indonesia. Kedua, sebagai suatu sistem gagasan dan perlambang yang dapat dipakai oleh semua warga Negara Indonesia yang bhineka itu, untuk saling berkomunikasi dan dengan demikian untuk dapat memperkuat solidaritas.
8.      Gatra Pertahanan Keamanan
Pertahanan keamanan suatu negara merupakan unsur pokok terutama dalam menghadapi ancaman militer negara lain. Oleh karena itu, unsure utama pertahanan keamanan berada di tangan tentara (militer). Pertahanan keamanan negara juga merupakan salah satu fungsi pemerintahan negara. Negara dapat melibatkan rakyatnya dalam upaya pertahanan negara sebagai bentuk dari hak dan kewajiban warga negara dalam membela negara. Upaya melibatkan rakyat menggunakan cara yang berbeda-beda sesuai dengan system dan polotik pertahanan yang di anut oleh negara. Politik pertahanan negara disesuaikan dengan nilai filosofis bangsa, kepentingan nasional dan kontek zamannya.
Peran Pemuda Dalam Meningkatkan Ketahanan Nasional
Bila melihat pada sejarah perjalanan bangsa Indonesia, pemuda selalu menjadi kekuatan utama dalam proses modernisasi dan perubahan. Dan biasanya pula pemuda jenis ini adalah para pemuda yang terdidik. Mereka mempunyai kelebihan dalam pemikiran ilmiah, selain semangat mudanya, sifat kritisnya, kematangan logikanya dan kebersihannya dari noda orde masanya. Angkatan 1908, Angkatan 1928, Angkatan 1945, Angkatan 1966, Angkatan 1974 dan Angkatan 1998 adalah sebutan bagi para pemuda di jamannya yang melakukan pembaharuan. Angkatan 1908 dan Angkatan 1928 merupakan angkatan pemuda yang melakukan pencerahan kepada rakyat atas penindasan kolonialisme. Angkatan 1908 mendapat inspirasi dari asiatic reveil (kebangkitan bangsa-bangsa Asia) akibat kemenangan Jepang terhadap Rusia pada tahun 1904-1905, sehingga mulai tumbuh kesadaran sebagai bangsa.
Berdasarkan semua proses tersebut, dapat diartikan bahwa pemuda atau kaum muda itu memiliki peran yang besar bagi suatu bangsa terutama terkait ketahanan nasional karena pemuda atau kaum muda itu mempunyai peran yang cukup besar dalam aspek kemasyarakatan. Pemuda atau kaum muda yang menjadi agent of change ini juga banyak yang turun secara langsung ke dalam lingkungan masyarakat. Mereka mempelajari, mendalami dan berusaha memperjuangkan nasib rakyat yang tertindas. Hal ini juga berkaitan erat dengan daya tahan bangsa karena sudah mencakup banyak elemen sosial atau kemasyarakatan.         
Peran pemuda dalam ketahanan nasional ini sangat penting. Pemuda sebagai bagian dari potensi pembangunan harus berdaya agar mampu berkiprah dalam menghadapi tantangan global. Jumlah pemuda usia produktif yang banyak merupakan potensi yang sangat besar. Keberdayaan pemuda sebagai upaya peningkatan kualitas sumber daya pemuda dilakukan melalui dorongan, bimbingan, kesempatan, pendidikan, pelatihan dan panduan sehingga mempunyai kesempatan untuk tumbuh sehat, dinamis, maju, mandiri, berjiwa wirausaha, tangguh, unggul, berdaya saing, demokratis, dan bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Selain itu sebagai generasi harapan bangsa, pemuda itu diharapkan mampu memahami konsep Wawasan Nusantara. Dalam konteks Indonesia Wawasan Nusantara merupakan wawasan nasional Indonesia (Indonesia national outlook) yang dikembangkan dan dirumuskan dalam rangka mencapai cita-cita dan tujuan nasional dengan mempertimbangkan pandangan geopolitik Indonesia, sejarah perjuangan dan kondisi sosial budaya bangsa. Bagi Indonesia, Wawasan Nusantara merupakan pedoman dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara menuju perwujudan Indonesia sebagai satu kesatuan politik, satu kesatuan ekonomi, satu kesatuan sosial budaya, dan satu kesatuan pertahanan keamanan.
Pemuda, sebagai bagian dari bangsa, harus mampu memahami wawasan ini, sehingga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, peran pemuda tetap sebagai garda depan pembangunan. Dengan memahami konsep tersebut maka pemuda harapan bangsa itu dapat mengetahui lebih mendalam peran pemuda dalam ketahanan nasional. Bahwa untuk memajukan bangsa itu butuh pemuda-pemuda yang berkualitas dan memahami konsep-konsep dalam suatu bangsa sehingga akan lebih menjiwai dan menjalankan perannya dengan baik.
Hal lain yang berpengaruh besar bagi pemuda adalah rasa nasionalisme. Dalam buku Regionalisme, Nasionalisme dan Ketahanan Nasional karya Ichlasul Amal da Araidy Armawi dijelaskan bahwa nasionalisme merupakan salah satu unsure dalam pembinaan kebangsaan atau nation-building. Dalam proses pembinaan kebangsaan semua anggota masyarakat bangsa dibentuk agar berwawasan kebangsaan serta berpola tatalaku secara khas yang mencerminkan budaya mauun ideologi. Proses pembinaan kebangsaan memang unik bagi tiap bangsa. Bagi Indonesia yang terdiri dari masyarakat yang plural dan heterogen akan lebih mengedepankan wawasan kebangsaan yang unsur-unsurnya adalah rasa kebangsaan, faham kebangsaan dan semangat kebangsaan atau nasionalisme. Rasa kebangsaan merupakan perekat paling dasar dari setiap anggota masyarakat bangsa yang karena sejarah dan budayanya memiliki dorongan untuk menjadi satu dan bersatu tanpa pamrih di dalam satu wadah Negara bangsa (nation-state). Sedangkan faham kebangsaan ini lebih bernuansa intelektual. Dalam implementasinya faham kebangsaan Indonesia disublimasikan dalam bentuk Wawasan Nusantara yang mengamanatkan kesatuan di berbagai bidang.
Dari berbagai penjelasan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa peran pemuda atau kaum muda dalam ketahanan nasional itu penting. Dengan pemahaman pada konsep-konsep dan semangat yang tinggi dalam setiap pejuangan, pemuda merupakan agent of change bagi suatu bangsa. Pembawaan pemuda yang berpikir kritis dan jauh memandang ke masa depan menjadi modal dalam menjalankan kontribusinya bagi kemajuan suatu bangsa demi terwujudnya ketahanan nasional.
A call-to-action text Contact us