:::: MENU ::::
  • Konflik Dan Kekerasan Di Papua ; Akar Masalah Dan Strategi Penyelesaiannya

  • Terorisme dan Reformasi Internal Polri

  • Pemuda Di Satu Abad Indonesia




Sedari kemarin foto seorang gadis belia nan cantik, wara wiri di media sosial. Seorang anak tunggal ayah ibunya, yang harusnya bisa saja tetap berdiam diri di rumah mengikuti keinginan junta militer yang sedang melancarkan kudeta, namun ternyata nuraninya menolak takluk. Dia tetap memilih turun ke jalan, menyuarakan penolakannya terhadap upaya membunuh demokrasi di negara itu. Ia dengan sadar meninggalkan zona aman dan memilih untuk tidak bungkam. 

Ia bergerak dengan optimisme yang menjalar, yang ia simbolkan dalam kaos hitam dengan nukilan " Everything will be OK". Padahal ia tahu betul, bahwa ia tidak akan baik-baik saja. Selain tanda pengenal, ada dua carik kertas yang sengaja ia bawa. Kertas bertuliskan golongan darahnya, B rhesus positif dan carikan kertas lain yang berisi pesan terakhirnya. Pesan terakhir untuk mendonorkan organ tubuhnya pada orang yang membutuhkan jika sekiranya ia tidak bisa diselamatkan. Seolah ia sadar betul bahwa suatu waktu dalam tindakan heroik yang dia lakukan dengan gigih dan berani itu, ia mungkin saja akan terluka, dan kemungkinan terburuknya menghadapi kematian, menjadi martir guna tegaknya kembali supremasi sipil di negara yang amat ia cintai. 

Gadis yang amat belia itu, memiliki kesadaran besar bahwa ia tidak boleh diam jika ingin negara yang ia cintai kembali baik-baik saja. Ia memang akhirnya dibungkam, tidak lagi berkutik, saat timah panas menembus kepalanya. Tapi kesadarannya merambat, keberaniannya menggugah, mengetuk nurani mereka yang masih menutup mata. Spirit perlawanannya pasti akan kembali, dalam wajah-wajah baru, dengan jumlah yang berlipat ganda.

#RIPKorbanKudetaMiliterMyanmar
#EverythingWillBeOK
#RIPPejuangDemokrasi
#RIPPejuangSupremasiSipil
A call-to-action text Contact us