:::: MENU ::::
  • Konflik Dan Kekerasan Di Papua ; Akar Masalah Dan Strategi Penyelesaiannya

  • Terorisme dan Reformasi Internal Polri

  • Pemuda Di Satu Abad Indonesia

Beberapa hari yang lalu, seorang adik mengingatkan bahwa sudah lama kami tidak bersua sambil menikmati kopi kawa. Kopi kawa atau yang juga sering disebut kawa daun ini merupakan salah satu minuman khas di sumatera barat.

Ia menjadi menarik karna tidak berasal dari seduhan biji kopi, sebagaimana sajian kopi pada umumnya. Kopi kawa justru berasal dari seduhan daun kopi yang sudah dikeringkan. Biasanya penyajiannya juga tidak di gelas, sebagaimana lazimnya penyajian kopi. Namun ia dinikmati di batok-batok kelapa yang sudah dibersihkan dengan didampingi saka (gula merah) ataupun susu kental sebagai pemanis.

Ide membuat minuman sejenis ini, konon katanya muncul akibat mirisnya hidup petani kopi di zaman penjajahan. Semua biji kopi petani di ambil oleh penjajah sebagai bentuk bayaran atas pajak tinggi yang mereka tetapkan. Kerinduan menikmati aroma kopi akhirnya hanya di bayar dengan menikmati seduhan daun kopi yang dikeringkan.

Jika dilihat dari sejarahnya, kopi kawa dulunya adalah kopinya masyarakat kelas bawah yang ditindas oleh penjajah. Namun pada akhirnya kenikmatan kopi kawa justru menjadi ciri khas tersendiri dan tidak lagi hanya dinikmati masyarakat petani kopi yang kehilangan kopinya. Kopi kawa telah menjadi magnet tersendiri bagi para pencinta kopi, khususnya di sumatera barat.

Pertama kali saya menikmati kopi kawa ini di daerah Simabur, di salah satu pinggiran jalan utama yang menghubungkan Padangpanjang dan Batusangkar. Menikmati seduhan kawa sambil memandangi padi yang menguning di sawah berjenjang nan apik, membuat saya betah berlama-lama disitu.

Sebagai anak rantau yang jauh dari rumah, tentunya kerinduan terhadap hal-hal berbau kampung halaman sering muncul. Salah satu cara mengobati paling ampuh buat saya  adalah datang ke tempat penjual kopi kawa yang ada di Jakarta. Beruntungnya tempat itu tidak terlalu jauh dari tempat saya tinggal. Sebelumnya kedai itu ada di Saharjo, dan sekarang sudah pindah ke Tebet.

Tatanan ruang yang ciamik dengan hiasan berbagai filosofi minang, lukisan tokoh-tokoh minang, serta life musik lagu-lagu minang akan membuat kerinduan akan kampung halaman sedikit berkurang. Apalagi disana hampir semua orang berbahasa minang. Bahasa yang jarang saya pakai kalau di Jakarta, kecuali jika bertemu orang-orang minang.

Tampaknya saya memang butuh ke sana segera.. 😃😃
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

A call-to-action text Contact us