:::: MENU ::::
  • Konflik Dan Kekerasan Di Papua ; Akar Masalah Dan Strategi Penyelesaiannya

  • Terorisme dan Reformasi Internal Polri

  • Pemuda Di Satu Abad Indonesia

Kejadian yang menimpa seorang guru di salah satu SMP di bantaeng cukup membuat saya miris. Bagaimana tidak, cuma gara-gara mencubit siswanya yg main siram-siraman air pel yg akhirnya air pel mengenai sang guru itu, ibu guru ini harus mendekam di penjara. Sang guru ini sekarang tengah mengalami depresi dan diabetes keringnya kambuh saat penahanan menunggu sidang saat ini.
Saya jadi ingat waktu saya sekolah dulu, bagaimana guru SD saya menyiapkan rotan utk siswa2nya yang nakal. Atau guru mengaji saya menyiapkan lidi saat kami salah membaca tajwid. Atau guru SMP saya yg menampar dua orang anak yg di anggap nakal didepan semua peserta upacara. Atau saat SMA kami dijemur sambil hormat ke tiang bendera ketika panas terik gara-gara sembunyi pas upacara bendera. Uniknya saat saya mengadukan ke rumah kalau saya dihukum, orang tua saya bukannya membela apalagi melaporkan sang guru ke polisi namun justru memarahi dan menambah hukuman saya. Kadang hukuman dirumah berlipat ganda dari hukuman di sekolah. Karna menurut orang tua saya guru tidak mungkin menghukum jika saya tidak salah. Walhasil, saya tdk pernah mengadu lagi ke rumah kalo di hukum di sekolah. Mungkin Orang tua saya malu kalau anaknya nakal sehingga hukuman saya di tambah.
Saat terjadi kasus yuyun atau enno yg dilakukan anak2 dibawah umur kita bertanya bagaimana pendidikan akhlak bagi anak2 sehingga moralnya se rusak itu. Namun disisi lain, ada orang tua yang merusak moral anaknya sendiri. Itu kan menyedihkan sekali..
Anak2 harusnya di ajarkan kebenaran. Ketika dia salah maka katakan salah, ketika benar katakan benar. Bukan memberikan pembenaran pada anak dengan menjebloskan guru ke penjara. Itu tindakan lebay orang tua yang akan menjadi bibit perusak moral anak. Si anak akan merasa selalu benar. Anak tidak hanya diberikan reward, namun punishment juga penting agar dia tahu mana yg benar dan salah serta tidak mengulangi kesalahan. Dengan pembenaran seperti itu penghargaan anak2 terhadap guru atau profesinya akan menjadi minim. Akibatnya, si anak tidak akan mendapatkan ilmu yg optimal. Kenapa begitu??
Karna manusia akan susah menyerap ilmu dari orang yg dia sepelekan. Mental block sudah terbentuk di awal. Maka ilmu apapun itu termasuk ilmu ttg akhlak tidak akan diterima dengan baik.
Maka buat para orang tua, berhentilah lebay.. anak harus ditekankan untuk hormat pada gurunya. Anak mesti dididik dg pemberian reward and punishment yg seimbang, bukan hanya reward saja. Karna guru lah yang mengajar dan mendidik mereka selain di rumah. Dan mendidik itu bukan hanya berceramah tentang trigonometri di depan kelas. Tapi mendidik itu meniscayakan proses penanaman nilai. Dan penanaman nilai memiliki cara yg beragam.
Akhirnya saya mengucapkan terimakasih untuk guru2 yang pernah menghukum saya, karna mereka mengajarkan saya mana hal benar dan hal salah serta memberikan efek jera buat saya dalam melakukan kesalahan. Teristimewa buat orang tua saya yang tidak lebay memperlakukan anaknya atas nama "sayang" walaupun saya tahu beliau sangat menyayangi saya.
Reaksi:

1 komentar:

A call-to-action text Contact us