Postingan

Terorisme dan Reformasi Internal Polri

Gambar
Era globalisasi yang terus menggelinding membuat batas-batas antar Negara semakin kabur. Terlebih saat revolusi 4.0 didengungkan, dimana teknologi menjadi salah satu penyokong utama dalam menjalankan roda kehidupan. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk keamanan dan pertahanan berbanding lurus dengan ancaman penyalahgunaan teknologi informasi dan komunikasi itu sendiri. Sehingga pertahanan dan keamanan siber menjadi salah satu isu prioritas yang menjadi perbincangan hangat di semua negara. Salah satu ancaman penyalahgunaan teknologi informasi adalah penyebarluasan hoax, ujaran kebencian. Penyebaran hoax dan ujaran kebencian di dunia maya mengancam lunturnya kohesi sosial di tengah masyarakat Indonesia yang sangat majemuk.  Kohesi sosial menurut MacCoun mengacu pada sifat dan kualitas ikatan emosional persahabatan, keinginan, perhatian, dan kedekatan antara anggota kelompok. [1]  Kohesi sosial dipengaruhi oleh beragam

Kopi Kawa

Gambar
Beberapa hari yang lalu, seorang adik mengingatkan bahwa sudah lama kami tidak bersua sambil menikmati kopi kawa. Kopi kawa atau yang juga sering disebut kawa daun ini merupakan salah satu minuman khas di sumatera barat. Ia menjadi menarik karna tidak berasal dari seduhan biji kopi, sebagaimana sajian kopi pada umumnya. Kopi kawa justru berasal dari seduhan daun kopi yang sudah dikeringkan. Biasanya penyajiannya juga tidak di gelas, sebagaimana lazimnya penyajian kopi. Namun ia dinikmati di batok-batok kelapa yang sudah dibersihkan dengan didampingi saka (gula merah) ataupun susu kental sebagai pemanis. Ide membuat minuman sejenis ini, konon katanya muncul akibat mirisnya hidup petani kopi di zaman penjajahan. Semua biji kopi petani di ambil oleh penjajah sebagai bentuk bayaran atas pajak tinggi yang mereka tetapkan. Kerinduan menikmati aroma kopi akhirnya hanya di bayar dengan menikmati seduhan daun kopi yang dikeringkan. Jika dilihat dari sejarahnya, kopi kawa dulunya adalah

Masa Depan Palestina

Gambar
Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait Yerussalem pada akhirnya menuai reaksi dari berbagai belahan dunia. Pengakuan Amerika atas Yerussalem sebagai ibukota Israel menimbulkan kegaduhan dan menuai banyak kecaman. Dalam Sidang Dewan kKeamanan PBB, Amerika Serikat bahkan ngotot menggunakan hak vetonya saat 14 dari 15 negara menolak pengakuan Amerika atas ibukota Israel.  Meskipun Amerika mengancam akan memberikan sanksi ekonomi terhadap negara-negara yang berseberangan, namun dalam sidang darurat Majelis Umum PBB pada 21 Desember 2017, justru 128 negara menentang Amerika, dan hanya 9 negara yang mendukung. Walaupun keputusan sidang ini tidak mengikat, hal ini tentunya menjadi tamparan keras bagi Amerika Serikat. Akar konflik Israel dan Palestina diawali oleh deklarasi Balfour pada 2 November 1917. Isi deklarasi ini adalah Inggris akan mengupayakan Palestina sebagai tuan rumah bagi bangsa Yahudi, tapi dengan jaminan tidak akan mengganggu hak keagamaan dan sipil warga

Pemuda Di Satu Abad Indonesia

Gambar
     Satu abad Indonesia adalah momentum emas untuk melihat pencapaian bangsa Indonesia. Perjalanan satu abad sebuah Negara tentunya sangat dipengaruhi oleh berbagai fondasi yang dibangun serta perkembangan situasi yang terjadi hari ini. Kemajuan teknologi, perubahan kondisi geopolitik, pengaruh globalisasi dan perkembangan kualitas SDM tentunya sangat menentukan bagaimana kondisi Indonesia di tahun 2045, beserta peluang dan tantangannya yang mungkin lahir. Dalam hal ini, pemuda sebagai generasi penerus tentunya memiliki peran yang sangat krusial dalam menentukan arah Indonesia di ulang tahun emasnya.       Indonesia di satu abad kemerdekaannya telah coba dirumuskan dalam skenario Indonesia 2045. Istilah skenario Indonesia 2045 lahir dari hasil riset lemhannas RI yang diketuai Panutan S Sulendrakusuma. Menurut panutan, Skenario adalah kisah tentang apa yang mungkin terjadi di masa depan. Skenario dibentuk bukan hanya untuk lebih memahami masa depan, melainkan lebih dari itu, yaitu unt

Sertifikasi penceramah, perlukah?

Di awal tahun lalu wacana mengenai sertifikasi penceramah pernah digaungkan oleh kemenag. Namun muncul penolakan dan cacian dari beberapa kelompok. Memang waktunya kurang tepat, sebab masih dalam momen pilkada dan masyarakat masih sensitif dengan upaya-upaya yang dianggap menyinggung agama.  Tapi mari kita coba fikirkan lagi wacana tersebut hari ini. Coba kita cermati fenomena penceramah yang ada hari ini dan mari kita jawab dengan jujur, ada berapa banyak yang tiba-tiba jadi penceramah instan. Sekolah tidak jelas dimana, mondok tidak jelas dimana, tiba-tiba sudah mengaku ustadz. Orang-orang sejenis itu juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Sebab masyarakat kita juga terkadang latah. Ada yang tampilannya sedikit menarik, sedikit-sedikit teriak takbir dan sedikit-sedikit mengkafirkan orang, itu sudah ramai-ramai dipanggil ustadz.  Lucunya adalah, untuk pendidikan dunia kita begitu selektif mencari guru. Untuk guru pendidikan dasar dan menengah minimal harus sarjana, untuk menjadi dose

Menelisik Rohingya

Gambar
Beberapa hari terakhir pemberitaan terkait kekera san yang terjadi di Rakhine terhadap etnis Rohingya bersiliweran di berbagai media. Berbagai bentuk respon juga marak di timeline sosial media kita. Mulai dari respon keprihatinan, respon kutukan terhadap orang yang dianggap bertanggung jawab terhadap kekerasan, hingga respon berbentuk caci maki terhadap suatu agama. Namun pada dasarnya peristiwa yang menimpa etnis rohingnya sangat mengusik kemanusiaan manusia. Kekerasan yang menimpa etnis Rohingya bukanlah yang pertama kali terjadi. Tahun 2015 lalu Indonesia bahkan sampai menampung 996 orang pengungsi etnis Rohingya yang terdistribusi di Aceh dan Medan. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah siapa sebenarnya etnis Rohingya dan apa kesalahan mereka sehingga diperlakukan demikian. Jawaban yang umum muncul adalah Rohingya merupakan muslim minoritas yang menempati daerah Rakhine, Myanmar dan mereka diburu sebab mereka muslim dan kafir membenci muslim. Sejarah mencatat bahwa Burma (Mya

Hari Ibu

Ibu : kamu mau balik? Saya : iya ibu : kenapa cepat sekali? Saya : mau urus sidang tesis dulu, bu Ibu : kamu lihat rekening ibu, ambil separuhnya utk ongkosmu balik..  Saya tercekat, diam.  Sejurus kemudian baru berkata, "Tiket saya sudah ada kok bu" Saya mungkin bukanlah perempuan ekspresif yang bisa menampilkan ekspresi kegelisahan, kegembiraan ataupun kesedihan saya. Saya hampir tidak pernah menangis di depan perempuan terkuat yg pernah saya kenal, yaitu ibu saya. Pun saat beliau kecelakaan 4 hari lalu hingga koma. Saya tetap tdk bisa menangis dihadapannya. Saya baru bisa menangis diam-diam dibelakang.  Saat saya pamit tadi, tubuh ibu masih ringkih terbaring di kasur. Ingatannya belumlah begitu pulih. Gegar otak ringan kata dokter. Untuk duduk saja ia masih kepayahan. Menahan sakit dan menahan nyeri di kepala.  Tapi saya harus kembali, bu..  Menyelesaikan bengkalai yang belum usai. Mimpi yang selalu engkau dukung. Saya tahu betul uang ibu tidak