:::: MENU ::::
  • Konflik Dan Kekerasan Di Papua ; Akar Masalah Dan Strategi Penyelesaiannya

  • Terorisme dan Reformasi Internal Polri

  • Pemuda Di Satu Abad Indonesia




A.    PENDAHULUAN
Donal trump merupakan bakal calon presiden amerika serikat yang berasal dari partai republic. Tentunya hal yang lumrah apabila seorang bakal calon presiden berusaha menarik perhatian dan dukungan konstituennya dengan melakukan kampanye. Kampanye-kampanye ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, mulai dari memanfaatkan social media, iklan di media public ataupun melakukan kampanye lewat orasi terbuka dihadapan orang-orang yang menjadi pendukungnya.
Sebagai calon presiden, membangun personal branding menjadi sangat penting. Karna simpati masyarakat akan terbangun saat seorang calon pemimpin mampu memoles personal brandingnya dengan baik. Saat simpati masyarakat terbentuk, disanalah dukungan terhadap calon pemimpin tadi akan mengalir serta pada akhirnya besarnya dukungan tersebutlah yang menentukan sampai atau tidaknya calon pemimpin tadi berada di posisi puncak. Oleh sebab itu, keberadaaan kampanye khususnya kampanye dalam bentuk orasi politik sangat penting dijalankan oleh donal trump selaku calon presiden amerika serikat.
Namun kampanye-kampanye yang dilakukan oleh Donal Trump ternyata menuai banyak protes dari kalangan masyarakat amerika sendiri. Kampanye-kampanye politik donal trump menimbulkan banyak pro dan kontra. Tidak hanya di kalangan masyarakat, bahkan presiden amerika serikat barrack obama juga menyatakan keresahannya terhadap kampanye-kampanye yang dilakukan trump. Pola kampanye trump juga dikecam oleh lawan politiknya Bernie sanders daan Hillary clinton[1]. Bernie sanders dan Hillary Clinton berkomentar pasca tuduhan yang dilancarkan Trump terhadap Bernie sanders yang dianggap sebagai penyebab ricuhnya kampanye Trump di Arizona. Menurut Bernie sanders “Apa yang menyebabkan terjadinya kekerasan dalam kampanye Trump adalah karena seorang kandidat yang mempromosikan kebencian dan perpecahan terhadap warga Amerika Latin, warga Muslim, kaum perempuan dan difabel, dan serangan-serangan terhadap legitimasi Presiden Obama,"

B.     MUATAN RASIS SERTA ISLAMOPHOBIA DALAM KAMPANYE TRUMP
Kampanye donal trump dianggap bermuatan rasis dan islamophobia. Sebelum mencalonkan diri pun, trump terkenal sebagai sosok yang anti islam dan anti imigran. Bentuk kampanye trump yang rasis dapat terlihat dari beberapa kasus dan pernyataannya yang mengecam keberadaan imigran asal suriah. Trump bahkan menuduh pengungsi asal suriah yang lari ke negaranya tergabung dalam ISIS[2]. Tentu saja tuduhan yang dilancarkan donal trump menimbulkan efek negative terhadap pengungsi asal suriah, mereka menjadi orang yang selalu dicurigai bahkan dibenci oleh masyarakat yang terprovokasi oleh kampanye Donal Trump. Bahkan trump juga berkeras bahwa Obama tidak dilahirkan di Amerika, memalsukan akte kelahirannya dan tidak layak menjadi presiden[3]. Pernyataan-pernyataan donal trump seperti ini tentunya membuat masyarakat menjadi tersekat-sekat dan menyuburkan paham sektarianisme.
Pengusiran terhadap wanita berjilbab rose hamid yang datang di arena kampanye trump, Carolina utara pada 8 januari 2016 semakin menegaskan bentuk diskriminasi donal trump terhadap muslim. Padahal rose hamid datang dengan baju kaos bertuliskan “salam, I come in peace”. Namun trump merasa terganggu dan memerintahkan orang-orang untuk menyeret perempuan itu keluar dari arena kampanye.
Kampanye Trump di Aiken, South Carolina juga diwarnai protes terhadap kampanye trump yang dinilai Islamophobia. Bedanya, jika rose hamid melakukan protes diam, jibril hough malah meneriakkan bahwa “islam bukan masalah” saat trump berorasi mengenai ekstremis radikal muslim. Akibatnya jibril juga dikeluarkan dari lokasi kampanye Trump.
Trump berkampanye dengan mengobarkan dan mendiskriminasikan pihak-pihak imigran, serta membakar kebencian masyarakat amerika serika terhadap kaum muslim. Trump selalu mengait-ngaitkan bahkan menuduh teroris adalah muslim. Bahkan yang terparah trump sempat memprovokasi masyarakat amerika serikat untuk meminta agar Muslim dilarang masuk ke Amerika Serikat[4]. Ini adalah sebuah pernyataan yang ditentang banyak orang, Gedung Putih, hingga para petinggi dunia.

C.    ANALISA KAMPANYE TRUMP DALAM PERSPEKTIF KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA
Kampanye donal trump kemungkinan besar dipengaruhi oleh identitas sosial yang dipilihnya. Ada beberapa jenis identitas sosial yang saling berhubungan, diantaranya :
1.      Identitas rasial
2.      Identitas etnis
3.      Identitas gender
4.      Identitas nasional
5.      Identitas regional
6.      Identitas organisasi
7.      Identitas pribadi
8.      Identitas dunia maya dan identitas khayalan[5]
Identitas merupakan produk dari keanggotaan seseorang dalam suatu kelompok. Manusia memperoleh dan mengembangkan identitas mereka melalui interaksi mereka dalam kelompok budaya mereka. Dalam hal kampanye trump di amerika, didukung dengan konsep identitas rasial yang di anut warga amerika. Konsep identitas sosial di amerika berhubungan dengan warisan historis seperti perbudakan, penganiayaan suku Indian di amerika, isu hak sipil dan peningkatan imigran[6]. Hal ini lah yang dimanfaatkan trump dalam kampanyenya guna meraup dukungan dari warga amerika melalui penguatan ras tertentu dan pendiskriminasian ras lainnya terutama para imigran pendatang. Trump membakar semangat sebagian warga amerika untuk menunjukkan identitas rasialnya dengan mendiskriminasikan ras lainnya.
Terhadap umat islam, Donal Trump memanfaatkan stereotype masyarakat amerika yang sudah lama dibangun pasca  peristiwa 11 september 2001. Retorika dan informasi yang berkembang tentang konflik antara iran dan irak, konflik di Afghanistan serta yang terakhir penyerangan atau ancaman teroris oleh ISIS. Imigrasi telah menyebabkan islam menjadi agama terbesar ke dua  di Amerika serikat. Mungkin factor ini juga yang membuat Donal Trump mengusulkan untuk tidak menerima muslim di amerika dan membenci para imigran dari luar yang masuk ke amerika. 
Stereotype merupakan susunan kognitif yang mengandung pengetahuan, kepercayaan, dan harapan sipenerima mengenai kelompok sosial manusia[7]. Tidak semua stereotype itu negative, ada juga stereotype yang positif. Contoh stereotype yang negative misalnya orang batak terkenal kasar, padahal tidak semua orang batak kasar. Contoh stereotype yang positif misalnya, orang cina pintar dalam hal berdagang. Adler mengingatkan kita akan efek membahayakan dari stereotype dalam komunikasi antar budaya sebagai berikut
Stereotype menjadi masalah ketika kita menempatkan orang di tempat yang salah, ketika kita menggambarkan norma kelompok dengan tidak benar, ketika kita mengevaluasi suatu kelompok dibandingkan menjelaskannya, ketika kita mencampuradukkan stereotype gengan gambaran seseorang atau individu dan ketika kita gagal untuk mengubah stereotype berdasarkan pengamatan dan pengalaman kita yang sebenarnya[8]
Sayangnya stereotype yang dibangun terhadap umat islam di amerika merupakan stereotype negative. Stereotype ini berkembang menjadi prasangka terhadap setiap orang islam yang mereka temui. Prasangka dalam arti luas merupakan perasaan negative yang dalam terhadap kelompok tertentu. Sentiment ini kadang meliputi kemarahan, ketakutan, kebencian dan kecemasan. Dalam kampanye Trump, stereotype terhadap umat islam dan pendatang dikembangkan menjadi prasangka yang menimbulkan kebencian terhadap imigran maupun terhadap umat islam yang berada di amerika. Jika pola-pola kampanye Trump terus dipertahankan maka kemungkinan akan timbul konflik yang lebih serius diakibatkan gagalnya komunikasi antar budaya di negara multikultur tersebut.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

A call-to-action text Contact us