:::: MENU ::::
  • Konflik Dan Kekerasan Di Papua ; Akar Masalah Dan Strategi Penyelesaiannya

  • Terorisme dan Reformasi Internal Polri

  • Pemuda Di Satu Abad Indonesia

Dalam bukunya "islam dan adat minangkabau" hamka menuliskan bahwa orang minang lebih memiliki keberanian merantau karna "ketiadaan hak" nya kaum laki-laki atas harta warisan, karna semua harta yg ada itu bukan punya dia tapi milik kaum perempuan,, entah ibunya, adik2nya, anak kemenakannya atau istrinya..
Namun saya tertarik dengan salah satu petatah petitih adat yg berbunyi
"Karatau madang di ulu
Babuah babungo balun
Karantau bujang daulu
Dirumah paguno balun"

Yg maknanya kurang lebih merantaulah anak bujang ku dahulu, sebab dirumah belum terlalu berguna.
Spirit yg saya tangkap dr pepatah adat di atas adalah spirit mencari ilmu dan pengalaman hidup. anak muda minang disuruh merantau agar ia mendapatkan ilmu dan pengalaman hidup yang berguna untuk membangun kembali tanah kelahirannya..
Sehingga ia menjadi orang yang "berguna" bagi kaumnya
Proses metamorfosis anak muda minang dr orang yg dianggap belum terlalu berguna menjadi orang yg sangat berguna itu melalui proses "merantau" tadi.
Melihat hal2 yg baik atau yg buruk dinegeri orang yg nantinya jadi dasar pertimbangan memajukan daerahnya
Pepatah adat diatas biasanya sering di munculkan pada anak2 minang mulai dari kecil,

Jika merantau difahami hanya sebagai sebuah pelarian dari kungkungan adat yang meniadakan hak laki2 atas harta, wajar jika banyak orang minang akhirnya "marantau cino"
Baik orang minang yang hebat2 ataupun orang minang yang biasa-biasa saja
Hingga pada akhirnya minang ya tetap begitu2 saja, kita hanya terjebak pada romantisme masa lalu dengan tokoh2 besar kita yg berasal dari minang
Tokoh2 besar dari minang itupun jangan kita lupa, mereka juga kebanyakan orang yg merantau sebelum menjadi besar. Sebut saja tan malaka, hatta, dll. Mereka bukan orang2 yg hanya diam di daerahnya. termasuk hamka sendiri yang dari umur 11 tahun sudah merantau ke mekah menuntut ilmu agama, merantau ke pekalongan dan bertemu dengan muhammadiyah, merantau ke negeri lain juga semisal deli, bugis, negeri sembilan, dll
Saya fikir Dari proses merantau itu jugalah hamka menemukan pelajaran yg menjadikannya besar baik sebagai ulama ataupun sebagai penulis.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

A call-to-action text Contact us