:::: MENU ::::
  • Konflik Dan Kekerasan Di Papua ; Akar Masalah Dan Strategi Penyelesaiannya

  • Terorisme dan Reformasi Internal Polri

  • Pemuda Di Satu Abad Indonesia



 
            Buku yang ditulis oleh Ian Bremmer ini menjelaskan mengenai konsep ketahanan sebuah negara dengan mengambil dua variable yaitu kestabilan dan keterbukaan negara – negara melalui sebuah kurva yang dinamai kurva J. Kurva J ini adalah sebuah kurva yang bentuknya mirip huruf J. kurva ini menjadikan sumbu vertical sebagai ukuran kestabilan dan sumbu horizontal sebagai ukuran keterbukaan. Keterbukaan berkaitan dengan bagaimana suatu negara selaras dengan arus globalisasi yang ada serta bagaimana aliran informasi dan gagasan didalam batas –batas sebuah negara. Kestabilan berbicara tentang kemampuan suatu negara bertahan terhadap guncangan – guncangan dan kemampuannya untuk tidak membuat guncangan.
            Kurva J menggambarkan ada negara – negara yang stabil karna tertutup dan juga negara – negara yang stabil karna terbuka. Jika negara – negara yang stabil karna tertutup akan mencoba menjadi negara yang stabil karna terbuka maka negara tersebut mau tidak mau harus melewati proses ketidakstabilan yang cukup kritis. Dalam hal kestabilan, demokrasi bukanlah menjadi factor penentu stabilnya sebuah negara. Misalnya saja ketika pemilihan, Turkmenistan yang otoriter dianggap lebih stabil dibanding Taiwan yang demokratis. Proses pemilihan menimbulkan guncangan di Taiwan, sementara di Turkmenistan manipulasi terang-terangan terhadap hasil pemilihan presiden bahkan hampir tidak menghasilkan riak karna hal itu sudah dianggap hal yang wajar bagi masyarakatnya.
Bremmer memetakan negara-negara yang stabil dengan ketertutupannya berada di ujung kiri kurva J. Korea Utara di bawah kepemimpinan Kim Juang II, Kuba di bawah Castro dan Irak di bawah kepemimpinan Saddam Husein. Negara – negara ini menurut bremmer adalah negara otoriter yang terkonsolidasi. Pemimpinnya membuat ketidakstabilan di luar negeri untuk mempertahankan kestabilan di dalam negeri. Misalnya Saddam Husein yang menolak kerjasama untuk mematuhi resolusi Perserikatan Bangsa Bangsa. Sementara Korea Utara  menutup diri dari akses dengan pihak luar dan terus berupaya sekuat tenaga mempertahankan kestabilan semu di dalam negeri sendiri. Korea Utara memiliki peluru kendali dan pusat militerisasi terkuat sedunia. Cadangan nuklir yang mereka miliki juga turut memperburuk ketidakstabilan internasional.
Rezim – rezim yang tertutupmenghabiskan sebagian besar sumber daya mereka untuk membangun “sistem kekebalan ideologis” dengan mempertahankan isolasi negerinya dari dunia luar. Kemajuan teknologi dan alat komunikasi membuat negara – negara ini kesulitan mengisolasi warganya dengan sempurna dari arus informasi dunia luar. Negara – negara seperti Iran, Arab Saudi dan Rusia walaupun juga menganut sistem yang sifatnya otoriter berpotensi menjadi tidak stabil dikarenakan lebih terbuka terhadap dunia luar dibanding tiga negara sebelumnya.
Afrika Selatan dan Yugoslavia merupakan negara yang berada di titik paling rendah Kurva J. Keduanya memasuki titik paling rendah pada kurva J dalam setengah dasawarsa yang sama. Afrika Selatan berhasil selamat berada di sisi kanan kurva, sementara Yugoslavia terjerumus dalam peperangan. Sangat sulit menemukan pemimpin yang mampu menjadikan Yugoslavia menuju kestabilan.  Militerisme Milosevic semakin memicu kekuatan-kekuatan sentrifugal yang menarik Yugoslavia ke berbagai arah. Sementara otoritas politik dan moral Mandela di Afrika Selatan diakui secara luas, sehingga berbagai kelompok ras, suku dan etnis yang berbeda bersedia bersatu dalam proyek bersama.
Bagian kanan kurva tentunya menunjukkan kestabilan setiap negara dengan konsep keterbukaannya terhadap berbagai pengaruh luar baik dalam hal politik, ekonomi, sosial dan kultural. Negara-negara ini secara hukum juga mengabadikan perlindungan atas hak-hak warga negara dan hak asasi manusia. Lembaga-lembaga pemerintahannya yang saling independen terhadap yang lain juga memperkuat stabilitas negara itu.
Menurut Bremmer, negara-negara Turki, Israel dan India termasuk berada dibagian kanan kurva J. Masyarakat di negara-negara ini memiliki banyak kesamaan yang mendasar. Mereka merupakan masyarakat yang dinamis, modern, sudah terbiasa dengan ekonomi pasar, demokrasi partai dan perubahan. Sangat berbeda dengan negara-negara di bagian kiri kurva yang sangat enggan dengan konsep kewirausahaan maupun ekonomi yang membangun kerakyatan.
Sehingga dalam analisis sederhana memberi gambaran bahwa perjalanan kurva semestinya terus mengalami perubahan, hanya saja negara-negara yang membiarkan dirinya larut dalam kestabilan yang menutup diri sesungguhnya kurang memberi definisi secara utuh terhadap kemajuan bangsa. Akan tetapi lebih menunjukkan keterbatasan gerak suatu masyarakat atas nama kestabilan, dengan bahasa lain semua masyarakat dalam bagian kurva kiri seakan - akan direkayasa untuk menutup mata dari melihat dunia secara nyata dan penuh inspirasi.
Sementara dalam bagian kanan kurva, menggambarkan adanya keterbukaan kepemimpinan untuk memberi pemahaman yang luas tentang pentingnya melihat keragaman secara luas. Namun, eksistensi negara-negara tersebut baik dalam bagian kiri kurva maupun bagian kanan kurva pasti akan terus mengalami perubahan, semestinya setiap pemimpin dengan bijaksana merekayasa dinamika bangsa semata-mata untuk kemaslahatan manusia secara nyata, bukan dengan manipulasi dan sebatas mempertahankan kekuasaan yang diktator.
Konsep kurva J sesungguhnya bukan mengukur tentang demokrasi tapi bagaimana proses kestabilan dan keterbukaan suatu negara. Dubai dan Singapore turut memperkenalkan konsep kepemimpinan otoriter yang berhasil mengalami keterbukaan dalam tataran gagasan, informasi dan kemajuan dengan pihak luar, namun mereka juga masih utuh mempertahankan kestabilan dan kemakmuran bagi masyarakatnya. Sehingga, rezim otoriter ini juga cukup membuktikan bahwa situasi sosial, politik dan ekonomi mereka dapat melakukan transisi yang sukses dari bagian kiri ke bagian kanan kurva J tanpa ketidakstabilan yang mencapai krisis. Pemerintah mereka tahu dapat menganut keterbukaan tanpa takut menjadi tidak stabil.
Bremmer menempatkan negara Cina sebagai negara dengan posisi yang dilematis. Cina tetap berada di bagian kiri kurva J, karena pemerintahannya dikuasai partai tunggal, partai komunis Cina. Namun partai ini telah membuka perekonomian Cina bagi investasi langsung dari luar negeri, dan negara itu telah bergabung dalam World Trade Organization. Cina mencoba membungkus penindasan politik dengan ketebukaan ekonomi. Namun jauh lebih mudah mengelola beberapa juta warga dengan pendapatan  bersaing dengan Eropa Barat paling kaya daripada mencoba mengendalikan 1.3 miliar orang, dengan ratusan juta di antaranya masih hidup dalam kemiskinan. Semua perubahan ini telah mengantarkan liberalisasi dan menaikkan kemakmuran, baik di dalam negeri Cina maupun di seluruh Asia Timur. Reformasi ekonomi Cina menggambarkan upaya partai untuk merekayasa perpindahan dari bagian kiri ke bagian kanan kurva J tanpa jatuh ke dalam kekacauan politik.
Amerika sebagai negara adidaya semestinya terus melakukan analisa-analisa dalam menentukan kebijakan secara menyeluruh. Hal ini karena ketidakterbukaan negara-negara di bagian kiri kurva J tentu juga disebabkan gerakan yang anti Amerika dan sikap kecurigaan yang berlebihan dengan kekuasaan Amerika. Sehingga, Amerika benar-benar membutuhkan kebijaksanaan tidak hanya melanggengkan posisi adidaya tapi bagaimana mewujudkan kestabilan yang merata atau paling tidak mengupayakan pergeseran pada bagian-bagian kurva.
Bremmer dalam buku ini cukup menggambarkan dinamika dan persoalan di negara-negara yang berada di bagian kiri maupun bagian kanan kurva J yang tentunya sangat berbeda-beda. Kurva J memberikan banyak pelajaran berharga tentang betapa pentingnya stabilitas dan keterbukaan untuk menjadi negara di bagian kanan kurva J yang terus menanjak ke arah kemajuan. Pada dasarnya semua negara-negara di dunia mengakui bahwa kestabilan jangka panjangnya akan sangat bergantung pada kemakmuran rakyat dan mengakui bahwa kompromi dengan keterbukaan harus dibuat guna mendapatkan dan mempertahankan kemakmuran dunia masa kini.
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

A call-to-action text Contact us